Welcome
back in my blog, Sahabat Coffe or Tea…!!!
Terima
kasih atas antusias kalian membaca postinganku “Wanita dan Apa yang Dipikirkannya”.
Jujur pas buka statistik blog kaget banget karena ternyata readernya hampir
200an lebih hahahha. Jadi semangat buat back lagi ke blog J. Well…. mungkin dipostingan selanjutnya akan lebih
banyak mengulas tentang psikologi dan wanita meskipun aku bukan anak psikologi
tapi selama WFH suka banget baca buku, quora dan youtube tentang psikologi.
Mmmmm sedikit banyak paham lah ya..hehehe. Oh..iya terima kasih juga kamu
(anonym) sudah bersedia share pengalaman setelah baca postinganku. Jadi ikut
empati ketika baca emailmu. Kamu,wanita yang luar biasa hebat, tangguh dan
sabar. So, sahabat Coffe or Tea, tulisan ini terinspirasi dari surel yang di kirim reader blogku, curhatan teman-temanku, pengamatanku dan juga ada sedikit pengalaman pribadi sih hihiihi. Ini kali pertama aku posting
tulisan semacam ini, biasanya cuma berani nulis di buku jounal pribadi. So, it’s
maybe sedikit ke arah love relationship, but I don’t want to write it more coz
I’m not expert on it. Peace…
Happy
reader Sahabat Coffee or Tea…J
Pernah
tidak kalian berfikir lama banget, super panjang dan mungkin sampai menyita
banyak waktu. Namun yang kalian fikirkan itu sebenarnya sesuatu yang kamu
sadari berlebihan, kejadian yang pernah kamu alami dimasa lalu. Yang mungkin
saja itu sakit hati, patah hati, rasa malu, kecewa dan sebagainya. Atau
sebaliknya, yang kalian pikirkan adalah tentang masa depan. Timbul rasa cemas
bahkan kekhawatiran kalau kalian tidak akan mampu mengatasi segala hal yang
mungkin terjadi di masa depan. Nah, kalau kalian berada dalam situasi seperti
ini berarti kalian sedang mengalami sesuatu yang disebut “OVERTHINKING”,arti sederhananya “kebanyakan mikir”. Hehehehe
Overthinking
terjadi ketika otak kalian tidak bisa berhenti berfikir padahal kalian mungkin
tidak sengaja memikirkan itu semua. Ada dua hal pemicu overthinking yaitu
pemikiran tentang masa lalu dan tentang masa depan. Misalnya kamu overthinking
tentang masa lalu, kemungkinan ini terjadi karena ada sebuah penyesalan yang
belum berhasil kamu proses. Istilah kerennya belum bisa “move on” dari hal itu.
Overthinking merupakan sebuah karunia bagi
mereka yang umumnya memiliki temperamen melankolis.
Sebenarnya orang-orang dengan temperamen melankolis ini dianugerahi
kekuatan atau kelebihan dalam berfikir. Oleh karena itu banyak pakar yang
beranggapan bahwa orang melankolis akan efektif menjadi guru, seniman, penulis,
analis dan profesi lainnya yang banyak melibatkan aktivitas berfikir. Ada juga
yang mengatakan kalau orang melankolis cenderung genius. Namun, perlu digaris bawahi kalau “melankolis” yang aku
sebutkan ini adalah orang-orang yang dominan melankolis bukan kombinasi yang
cukup berimbang dengan tipe temperamen lainnya.
Nah,
meskipun punya banyak kelebihan, orang melankolis juga memiliki kekurangan
apabila tidak disikapi atau diatasi dengan baik. Kekurangan orang-orang melankolis yaitu cenderung
memiliki perasaan yang sangat sensitif. Saking sensitifnya, tidak
jarang mereka sering kali mudah merasa bersalah pada sesuatu yang sebenarnya
itu bukan salahnya, merasa turut sedih (empati) setiap kali seseorang bercertia
kepadanya, orang yang selalu peduli dan perhatian terhadap orang lain apalagi
orang yang begitu penting dihidupnya. Mudah sekali menangis dan iba, apalagi
wanita yang punya perasaan sensitif. Wanita seperti ini terkadang memilih untuk
diam dan menangis daripada harus mengutarakan keluhannya (emotional dissonance). Akan tetapi, sepandai-pandainya wanita menyembunyikan
perasaan dan sesabar apapun wanita itu, ada saatnya dia akan berontak. Butuh
ribuan kali untuk berfikir dan keberanian yang luar biasa untuk berbuat demikian.
Karena sejujurnya wanita dengan perasaan sensitif ini tidak mampu untuk
mengutarakan kejujuran atau perasaannya yang mungkin nantinya akan menyakiti
orang lain. Saking sayangnya, kadang wanita yang sering minta maaf walau
laki-lakinya yang salah, biar apa?Biar cepet kelar masalahanya. Tapi kadang laki-laki nglunjak dan malah menginjak harga diri si wanita. True? Hanya laki-laki yang paham arghhhh....
Well….
apa hubungan overthinking, sensitif dan relationship?
Wanita
yang sensitif cenderung overthinking dan ini tentu saja akan berdampak pada
kehidupan relationship orang itu. Wanita punya hati lembut, tulus, dan ingin dihargai untuk setiap hal kecil sekalipun. Temanku pernah curhat kalau dia merasa sedang
dalam toxic relationship. Dia menjalin
relationship selama hampir 4 tahun. Setiap ada masalah sering kali cerita ke
pacarnya (sorry to say, I don’t like this word). Awal menjalin relationship,
dia selalu memuji pasangannya yang bijak dalam berfikir atau bertindak. Hingga
as time goes bye, setiap bercerita masalahnya, pasangannya selalu bilang “kok
kamu ngeluh mulu sih, lama-lama aku jadi bosan dan capek”. Setiap kali
mendengar kata itu, dia langsung meminta maaf dan bilang kalau dia tidak akan
mengeluh lagi dan jadi berfikir ulang kalau mau cerita kepacarnya. Curhatan
lain, ketika dia pulang kuliah praktikum sampai jam 8 malam. Dia bilang ke “pasangannya”
dengan harap bakal dijemput. Tapi justru hanya dibalas, “hati-hati ya di jalan”.
Sebenarnya tidak ada masalah karena dia bisa pulang naik transport online,
hanya saja terlalu berisiko bagi wanita kalau sudah malam. Yang membuat dia
sakit hati adalah ada temannya yang bilang kalau “pasangannya” sedang asyik tiduran
sambil ngegames di kosnya. Setiap kali ada permasalahan, justru dia yang
disalahkan balik dan justru dia yang bilang minta maaf dan memohon-mohon untuk
baikan. Dia merasa hubungan mereka sudah tidak sehat. Relationship yang dia
mimpikan adalah relationship yang bisa membuat dia bahagia. Namun, yang dia
dapat hanya rasa sakit hati dan kecewa karena terlalu berharap dengan manusia.
Menyikapi
cerita ini, ada baiknya untuk belajar psikologis antara wanita dan laki-laki
sebelum memulai sebuah relationship. Harus mempersiapkan mental akan
kemungkinan-kemungkinan terburuk dari sebuah relationship. Tentu saja susah
karena wanita dan laki-laki dilahirkan dengan kodrat yang berbeda. Wanita
melakukan segala sesuatu dengan perasaanya sedangkan laki-laki menggukan akal
atau rasional mereka. Disini tampak jelas kalau perbedaan persepsi dan
misskomunikasi akan sering terjadi. Akan tetapi darisinilah kita belajar dan
mencoba menyikapinya dengan dewasa. Kalau tidak semua yang dipikirkan dan
lakukan akan mendapat feedback yang sesuai dengan harapan atau asumsi kita. Kita
tidak bisa mengendalikan orang-orang
disekitar kita untuk memiliki persepsi dan asumsi yang sama sepeti kita.
Yang perlu kita lakukan adalah “mengendalikan diri kita sendiri”. Kita perlu
mencintai diri kita terlebih dahulu sebelum memberanikan diri untuk mencintai
orang lain. Maksud kalimat ini adalah ketika kamu mulai mencintai dirimu, kamu
akan mengetahui apa yang sebenarnya kamu butuhkan, kebahagiaan seperti apa yang
kamu inginkan, dan segala hal yang tidak kamu sukai dan harus dihindari.
Ketika
kamu merasa teman,sahabat atau bahkan pasanganmu sendiri adalah orang yang overthinking,
deep thinker, sensitif maka kamu tidak boleh langsung menjustifikasi mereka
sebagai seseorang yang memang overthinking. Ada kalanya kamu perlu mengetahui penyebab mereka menjadi
overthinking. Bisa jadi overthinking itu muncul karena trauma akan masa lalunya
dan sebagai antisipasi agar tidak lagi terulang dia seringkali berfikir lebih. Misalnya,
dia pernah diselingkuhin atau menjadi orang ketiga dalam sebuah relationship yang
tidak dia sadari atau pernah mengalami cinta sepihak. Karena kenyataan hidup yang
juga menyakitkan adalah ketika
mengetahui orang yang kita cintai tidak mencintai kita balik. Sehingga muncul
trauma untuk membuka hati, jatuh cinta
atau menjalin komitmen dengan seseorang. Kalaupun bisa “pola relationship” masa
lalu tentu sedikit banyak akan turut “hadir” di relationship yang baru. Be good
enough to forgive people but don’t be stupid enough to trust them again!.
Oleh
karena itu butuh kesiapan mental untuk memulai
relationship yang baru dengan orang yang baru dan tentu saja dengan masa lalu
yang berbeda. Saling menerima, menghargai, mengerti, memaafkan, percaya, melengkapi,
dan menasehati. Coba bertanya pada diri sendiri, relationship apa yang
sebenaranya kamu inginkan. Apakah sekedar untuk bermain-main, mendapat kesenangan
semata atau mencari teman hidup. Semuanya kembali ke prinsip kita
masing-masing. Tapi yakinlah semakin dewasa semakin enggan menjalin
relationship yang hanya main-main, karena malas untuk sakit hati lagi, sembuh
lagi, memulai lagi. Yang diinginkan hanya teman hidup yang bisa diajak bertukar
pikiran, membersamai fase-fase jatuh bangun, seseoarang yang bisa jadi ayah,
ibu, adik, kakak, bertanggung jawab, dan mau belajar bagaimana menjadi imam dan
makmum yang baik. Why im totatally bucin tonight ..hahaha
Kalau
kalian berada dalam fase toxic relationship, overthinking. Its okay, its your
part of your destiny. Tapi, kalian harus berani memutuskan mana yang terbaik
untuk kamu saat ini dan masa depanmu. Lebih baik mengakhiri daripada terjurumus
pada rasa sakit hati yang terlalu dalam. Sesungguhnya kalau kamu meninggalkan
sesuatu karena Allah (Tuhan) niscaya akan digantikan padamu yang lebih baik. Air
hujan tak pernah memilih dia jatuh untuk siapa, namun air mata selalu tepat
menentukan jatuh untuk siapa. Roda selalu berputar dan fase selalu berganti.
Untuk setiap penantian yang hari ini sedang kita jalani, untuk setiap hati yang
memutuskan untuk berjarak pada hal yang tak diridhai. Sekuat apapun menjaga
yang memang bukan takdir kita tentu akan pergi.
Cara
mencintai yang paling terbaik adalah memuliakannya dalam setiap doamu. Untuk
saat ini, hanya berdoa yang kamu bisa. Layaknya Ali bin Abi Thalib dan Fatimah
Azzahra. Mencintai dalam diam dan doa. Memanjangkan doa di sepertiga
malam adalah cara memperjuangkannya. Tidak mengapa, lagipula kamu tidak sedang
memperjuangkan sesuatu yang sementara, sebab yang kamu perjuangkan adalah seseorang
yang akan kamu sempurnakan separuh agamanya dan salah satu jalanmu menuju surga. Mungkin
saat ini dia sedang terikat hubungan kekeliruan atau kamu sedang hampa dalam
pencarian. Tak mengapa bagaimana keadaan dia sekarang. Ada bait khusus untuk dia agar Allah memudahkannya untuk memperbaiki diri.
Kamu tentu tidak ingin menjadi dua orang yang berakhlak buruk yang
disatukan bukan, jadi mari saling memantaskan. Yang kamu inginkan hidup bersama dikarenakan sama sama berakhlak luar biasa. Jikapun ada satu atau dua kekurangan, biar
dibawah atap yang samalah tempat saling melengkapkan.
Namun,
bila doamu tidak mampu membawanya. Tidak mengapa. Semoga Allah mengabulkan salah
satu bait doamu agar kelak dia dibersamakan dengan orang lain yang mampu
mendekatkannya kepada Allah. Setidaknya jejak-jejak doamu diabadikan oleh langit,
yang mungkin turut bersedih sebab takdir tak berpihak pada harapanmu. Aku
yakin, langit pun tahu betapa panjang doa-doamu saat memintanya.
Sad ending?
NO, THIS IS LOVE
EVERLASTING

