Kamis, 02 April 2020

Perempuan dan Apa yang Dipikirkannya

Diposting oleh Coffee or Tea ☕ di 07.54 0 komentar



 “Sahabat Coffe or Tea” warm regards for you guys.

I miss U like Pluto wanna become planet anymore, Do you? 

As we know the world is not run well as before.  The pandemic globally disturb human being so do my academic. During my online class, almost every night my bestie make video call to me. Education, future, feminism, health, family, relationship become obligation topic around Us. That’s take a deep place in my mind so far. I lay in my sweet room  then I keep silent and suddenly I GOT MY MIND FULL OF UNSAID THING. So, I decide to type it!

Bagi perempuan, perasaan atau feeling  memiliki peran yang sangat penting bahkan ada saat dimana perasaan mendominasi keputusan-keputusan yang diambil dalam hidupnya. Perempuan memiliki perasaan yang lebih peka atau sensitive dibandingkan laki-laki karena pada dasarnya perasaan menempati ruang tertinggi dalam jiwa perempuan ketimbang logika atau rasionalitas. Kepekaan tersebut sudah terkandung dalam DNA perempuan sejak evolusi mereka menjadi makhluk hidup. Itulah alasan dasar mengapa perempuan memiliki  kodrat untuk mengandung, melahirkan dan membesarkan anak. Perempuan meyakini bahwa perasaan peka atau sensitive teramat penting fungsinya untuk menjaga keberlangsungan hidup anak-anak mereka. Berbeda halnya dengan laki-laki yang pada awal evolusi memiliki peran utama untuk melindungi keberlansungan hidup seluruh klannya dengan berburu dan meramu. Peran tersebut tentu saja mengharuskan laki-laki untuk mengutamakan logika dalam pengambilan keputusan.

Pemikiran perempuan meyakini bahwa menikah dengan laki-laki yang mereka sayangi adalah suatu kemuliaan dalam hidup dan mengabdikan hidup untuk laki-laki yang ia cintai seperti halnya berlayar dipulau impian yang teramat indah dan menyenangkan untuk dibayangkan. Lantas, Dari mana datangnya cinta? “Dari mata turun ke hati” benarkah? Mungkin penjelasan harfiah dari pepatah tersebut ialah ketika mata kita melihat seseorang lalu jantung (hati) kita berdebar, maka itu tandanya “cinta”. Jika belum pernah merasakan jantung berdebar - debar maka ada dua kemungkinan. Ada gangguan pada jantung kalian atau “jantung hati kalian” mungkin masih otw. hahaha.

Dahulu stigma perempuan terbatas pada “masak, macak,manak” (memasak, berdandan, dan melahirkan keturunan). Perempuan dulu dianggap sebagai “wadah” untuk meneruskan keturunan. Bagaimana dengan perempuan zaman sekarang? Apa yang dibutuhkan perempuan modern untuk survive? . Kemampuan mengkombinasikan perasaaan dan logika adalah jawaban yang paling tepat untuk pertanyaan ini.

Pernah mendengar cerita pasangan berbeda “keyakinan” yang telah menjalin hubungan bertahun-tahun. Mereka memang saling cinta dan sayang, namun tidak bisa melanjutkan ke pernikahan karena terhalang restu orang tua. Bisa membayangkan betapa dilemanya perempuan ini, hati dan pikirannya sudah tentu bergejolak karena harus membuat keputusan tentang hubungannya apakah berhenti  atau berjuang demi cinta yang sudah menahun dipertahankan. Secara logika, perempuan ini seharusnya menghentikan hubungannya sekarang juga karena hal ini dapat membuang waktunya dan menghambat masa depannya yang mungkin bisa dimulai dengan orang yang lebih baik dan seiman.

Sahabat “Coffee or tea” jika kalian berada di posisi perempuan ini mana yang kalian utamakan logika atau perasaan? Ada sebuah teori yang relatable dengan kasus ini yaitu Sunk Cost Fallacy, saat seseorang berfikir bahwa investasi (perasaan cinta) pantas untuk ditunggu hasilnya walaupun investasi (perasaan cinta) tersebut sudah jelas menunjukan hal yang buruk. Perempuan ini terjebak dalam situasi Sunk Cost Fallacy dan menyebabkan dirinya bias pemikiran, perempuan ini berfikir bahwa dia dan pacarnya entah kapan pasti akan menikah padahal tanda-tanda investasi yang ia lakukan kemungkinan besar gagal sudah sangat jelas. Menurut saya, dalam hal ini logika sangat dibutuhkan perannya ketimbang perasaan.

Perempuan dan apa yang dipikirkannya merupakan sebuah universe (semesta) yang infinite (tidak terbatas). Bagaimana tidak, mulai dari hal-hal sederhana sampai kompleks ada dipikiran perempuan. Sehingga perempuan memiliki kecenderungan mudah “baper”. Chat tidak terbalas sedih, galau. Digalakin dikit langsung sakit hati, disindir langsung tersinggung. Diomongin kasar marah, dikepoin langsung sebel. Padahal dalam social life, semua kegiatan kita memerlukan interaksi dengan orang lain sehingga wajar muncul berbagai opini antara satu dengan yang lain. Atau istilah hitznya auto gunjing.  Berbicara hal ini, saya jadi teringat materi yang didiskusikan dosen saya ketika kuliah daring tentang “emosi dan suasana hati”. Perempuan memiliki kecenderungan untuk melakukan Emotional Dissonance yaitu tidak adanya sinkorinisasi antara emosi yang dirasakan dengan yang ditampilkan. Mengapa demikian? Perempuan memiliki hati yang sangat lembut dan cenderung tidak mau dianggap lemah. So, itulah kenapa kebanyakan perempuan memilih berpura-pura menjadi kuat dan cenderung menyembunyikan perasaan dan suasana hatinya dalam diam.

Dari pengalaman dan juga cerita my bestie, saya akhirnya memiliki kesadaran bahwa perasaan tidak seharusnya mendominasi sebagian besar kehidupan saya. Energi saya mungkin akan sia-sia hanya memikirkan perasaan yang sifatnya bias. Berkonsiliasi dengan diri sendiri itu perlu dan engaged dengan  logika menjadi sebuah keharusan bagi saya.

Berkaca dari sosok perempuan hebat seperti Ratu Elizabeth, Susi Pudjiastuti, Sri Mulyani dan perempuan hebat lainnya sudah pasti membiasakan diri mereka untuk selalu berfikir logis dan rasional dalam membuat keputusan. Cara berfikir logis perempuan tersebut akan tercatat di DNA mereka dan akan diteruskan kepada keturunan-keturunan mereka selanjutnya. Evolusi pemikiran perempuan hebat ini tidak hanya berguna untuk saat ini, tetapi berguna juga untuk keturunan-keturunan mereka di masa yang akan datang.

“Perempuan dan apa yang dipikirkannya merupakan ramalan besar tentang masa depan keluarga bahkan sebuah bangsa”

In my point of view;  Its ok to think higher and bigger, is not shamefull at all. But we need to unlock the ability of how to think citically and logically.
 “R_dry 2020”

Much obliged To Mrs.Indira Gustiar, who inspiring me to type!
Thanks a bunch for Mrs.Tyas, my lecturer who deliver e very interesting materi yesterday
And also Thank to My Bestie Novilia for beautiful pict, Saun & Pipit who support my mood (always and ever)

Noted: Feel free to give any comment below

 

R_dry Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea