“Sahabat
Coffe or Tea” warm regards for you guys.
I miss U like Pluto wanna become planet anymore,
Do you?
As we know the world is not run well as
before. The pandemic globally disturb
human being so do my academic. During my online class, almost every night my
bestie make video call to me. Education, future, feminism, health, family,
relationship become obligation topic around Us. That’s take a deep place in my
mind so far. I lay in my sweet room then
I keep silent and suddenly I GOT MY MIND FULL OF UNSAID THING. So, I decide to
type it!
Bagi perempuan,
perasaan atau feeling memiliki peran yang sangat penting bahkan ada
saat dimana perasaan mendominasi keputusan-keputusan yang diambil dalam
hidupnya. Perempuan memiliki perasaan yang lebih peka atau sensitive
dibandingkan laki-laki karena pada dasarnya perasaan menempati ruang tertinggi
dalam jiwa perempuan ketimbang logika atau rasionalitas. Kepekaan tersebut
sudah terkandung dalam DNA perempuan sejak evolusi mereka menjadi makhluk
hidup. Itulah alasan dasar mengapa perempuan memiliki kodrat untuk mengandung, melahirkan dan
membesarkan anak. Perempuan meyakini bahwa perasaan peka atau sensitive teramat
penting fungsinya untuk menjaga keberlangsungan hidup anak-anak mereka. Berbeda
halnya dengan laki-laki yang pada awal evolusi memiliki peran utama untuk
melindungi keberlansungan hidup seluruh klannya dengan berburu dan meramu.
Peran tersebut tentu saja mengharuskan laki-laki untuk mengutamakan logika
dalam pengambilan keputusan.
Pemikiran perempuan
meyakini bahwa menikah dengan laki-laki yang mereka sayangi adalah suatu
kemuliaan dalam hidup dan mengabdikan hidup untuk laki-laki yang ia cintai
seperti halnya berlayar dipulau impian yang teramat indah dan menyenangkan
untuk dibayangkan. Lantas, Dari mana datangnya cinta? “Dari mata turun ke hati”
benarkah? Mungkin penjelasan harfiah dari pepatah tersebut ialah ketika mata
kita melihat seseorang lalu jantung (hati) kita berdebar, maka itu tandanya “cinta”.
Jika belum pernah merasakan jantung berdebar - debar maka ada dua kemungkinan. Ada
gangguan pada jantung kalian atau “jantung hati kalian” mungkin masih otw.
hahaha.
Dahulu stigma
perempuan terbatas pada “masak, macak,manak” (memasak, berdandan, dan
melahirkan keturunan). Perempuan dulu dianggap sebagai “wadah” untuk meneruskan
keturunan. Bagaimana dengan perempuan zaman sekarang? Apa yang dibutuhkan
perempuan modern untuk survive? .
Kemampuan mengkombinasikan perasaaan dan
logika adalah jawaban yang paling
tepat untuk pertanyaan ini.
Pernah mendengar
cerita pasangan berbeda “keyakinan” yang telah menjalin hubungan
bertahun-tahun. Mereka memang saling cinta dan sayang, namun tidak bisa
melanjutkan ke pernikahan karena terhalang restu orang tua. Bisa membayangkan
betapa dilemanya perempuan ini, hati dan pikirannya sudah tentu bergejolak
karena harus membuat keputusan tentang hubungannya apakah berhenti atau berjuang demi cinta yang sudah menahun
dipertahankan. Secara logika, perempuan ini seharusnya menghentikan hubungannya
sekarang juga karena hal ini dapat membuang waktunya dan menghambat masa
depannya yang mungkin bisa dimulai dengan orang yang lebih baik dan seiman.
Sahabat “Coffee or tea” jika kalian berada di
posisi perempuan ini mana yang kalian utamakan logika atau perasaan?
Ada sebuah teori yang relatable dengan
kasus ini yaitu Sunk Cost Fallacy, saat
seseorang berfikir bahwa investasi
(perasaan cinta) pantas untuk ditunggu hasilnya walaupun investasi (perasaan cinta) tersebut sudah jelas menunjukan hal yang
buruk. Perempuan ini terjebak dalam situasi Sunk
Cost Fallacy dan menyebabkan dirinya bias
pemikiran, perempuan ini berfikir bahwa dia dan pacarnya entah kapan pasti
akan menikah padahal tanda-tanda investasi
yang ia lakukan kemungkinan besar gagal sudah sangat jelas. Menurut saya,
dalam hal ini logika sangat dibutuhkan perannya ketimbang perasaan.
Perempuan dan apa
yang dipikirkannya merupakan sebuah universe
(semesta) yang infinite (tidak
terbatas). Bagaimana tidak, mulai dari hal-hal sederhana sampai kompleks ada
dipikiran perempuan. Sehingga perempuan memiliki kecenderungan mudah “baper”. Chat
tidak terbalas sedih, galau. Digalakin dikit langsung sakit hati, disindir
langsung tersinggung. Diomongin kasar marah, dikepoin langsung sebel. Padahal
dalam social life, semua kegiatan
kita memerlukan interaksi dengan orang lain sehingga wajar muncul berbagai
opini antara satu dengan yang lain. Atau istilah hitznya auto gunjing. Berbicara hal
ini, saya jadi teringat materi yang didiskusikan dosen saya ketika kuliah
daring tentang “emosi dan suasana hati”. Perempuan memiliki kecenderungan untuk
melakukan Emotional Dissonance yaitu tidak
adanya sinkorinisasi antara emosi yang dirasakan dengan yang ditampilkan.
Mengapa demikian? Perempuan memiliki hati yang sangat lembut dan cenderung
tidak mau dianggap lemah. So, itulah kenapa kebanyakan perempuan memilih
berpura-pura menjadi kuat dan cenderung menyembunyikan perasaan dan suasana
hatinya dalam diam.
Dari pengalaman dan
juga cerita my bestie, saya akhirnya memiliki kesadaran bahwa perasaan tidak
seharusnya mendominasi sebagian besar kehidupan saya. Energi saya mungkin akan
sia-sia hanya memikirkan perasaan yang sifatnya bias. Berkonsiliasi dengan diri sendiri itu perlu dan engaged dengan logika menjadi sebuah keharusan bagi saya.
Berkaca dari sosok
perempuan hebat seperti Ratu Elizabeth, Susi Pudjiastuti, Sri Mulyani dan
perempuan hebat lainnya sudah pasti membiasakan diri mereka untuk selalu
berfikir logis dan rasional dalam membuat keputusan. Cara berfikir logis
perempuan tersebut akan tercatat di DNA mereka dan akan diteruskan kepada
keturunan-keturunan mereka selanjutnya. Evolusi pemikiran perempuan hebat ini
tidak hanya berguna untuk saat ini, tetapi berguna juga untuk
keturunan-keturunan mereka di masa yang akan datang.
“Perempuan dan apa
yang dipikirkannya merupakan ramalan besar tentang masa depan keluarga bahkan
sebuah bangsa”
In my point of view;
Its ok to think higher and bigger, is
not shamefull at all. But we need to unlock the ability of how to think
citically and logically.
“R_dry 2020”
Much obliged To
Mrs.Indira Gustiar, who inspiring me to type!
Thanks a bunch for
Mrs.Tyas, my lecturer who deliver e very interesting materi yesterday
And also Thank to
My Bestie Novilia for beautiful pict, Saun & Pipit who support my mood
(always and ever)
Noted: Feel free to give any comment below
Noted: Feel free to give any comment below

