Selasa, 28 Juli 2020

Overthinking VS Toxic Relationship

Diposting oleh Coffee or Tea ☕ di 09.07 0 komentar


Welcome back in my blog, Sahabat Coffe or Tea…!!!

Terima kasih atas antusias kalian membaca postinganku “Wanita dan Apa yang Dipikirkannya”. Jujur pas buka statistik blog kaget banget karena ternyata readernya hampir 200an lebih hahahha. Jadi semangat buat back lagi ke blog J. Well…. mungkin dipostingan selanjutnya akan lebih banyak mengulas tentang psikologi dan wanita meskipun aku bukan anak psikologi tapi selama WFH suka banget baca buku, quora dan youtube tentang psikologi. Mmmmm sedikit banyak paham lah ya..hehehe. Oh..iya terima kasih juga kamu (anonym) sudah bersedia share pengalaman setelah baca postinganku. Jadi ikut empati ketika baca emailmu. Kamu,wanita yang luar biasa hebat, tangguh dan sabar. So, sahabat Coffe or Tea, tulisan ini terinspirasi  dari surel yang di kirim reader blogku, curhatan teman-temanku, pengamatanku dan juga ada sedikit pengalaman pribadi sih hihiihi. Ini kali pertama aku posting tulisan semacam ini, biasanya cuma berani nulis di buku jounal pribadi. So, it’s maybe sedikit ke arah love relationship, but I don’t want to write it more coz I’m not expert on it. Peace…

Happy reader Sahabat Coffee or Tea…J

Pernah tidak kalian berfikir lama banget, super panjang dan mungkin sampai menyita banyak waktu. Namun yang kalian fikirkan itu sebenarnya sesuatu yang kamu sadari berlebihan, kejadian yang pernah kamu alami dimasa lalu. Yang mungkin saja itu sakit hati, patah hati, rasa malu, kecewa dan sebagainya. Atau sebaliknya, yang kalian pikirkan adalah tentang masa depan. Timbul rasa cemas bahkan kekhawatiran kalau kalian tidak akan mampu mengatasi segala hal yang mungkin terjadi di masa depan. Nah, kalau kalian berada dalam situasi seperti ini berarti kalian sedang mengalami sesuatu yang disebut “OVERTHINKING”,arti sederhananya “kebanyakan mikir”. Hehehehe

Overthinking terjadi ketika otak kalian tidak bisa berhenti berfikir padahal kalian mungkin tidak sengaja memikirkan itu semua. Ada dua hal pemicu overthinking yaitu pemikiran tentang masa lalu dan tentang masa depan. Misalnya kamu overthinking tentang masa lalu, kemungkinan ini terjadi karena ada sebuah penyesalan yang belum berhasil kamu proses. Istilah kerennya belum bisa “move on” dari hal itu.

Overthinking merupakan sebuah karunia bagi mereka yang umumnya memiliki temperamen melankolis. Sebenarnya orang-orang dengan temperamen melankolis ini dianugerahi kekuatan atau kelebihan dalam berfikir. Oleh karena itu banyak pakar yang beranggapan bahwa orang melankolis akan efektif menjadi guru, seniman, penulis, analis dan profesi lainnya yang banyak melibatkan aktivitas berfikir. Ada juga yang mengatakan kalau orang melankolis cenderung genius. Namun, perlu digaris bawahi kalau “melankolis” yang aku sebutkan ini adalah orang-orang yang dominan melankolis bukan kombinasi yang cukup berimbang dengan tipe temperamen lainnya.

Nah, meskipun punya banyak kelebihan, orang melankolis juga memiliki kekurangan apabila tidak disikapi atau diatasi dengan baik. Kekurangan  orang-orang melankolis yaitu cenderung memiliki perasaan yang sangat sensitif. Saking sensitifnya, tidak jarang mereka sering kali mudah merasa bersalah pada sesuatu yang sebenarnya itu bukan salahnya, merasa turut sedih (empati) setiap kali seseorang bercertia kepadanya, orang yang selalu peduli dan perhatian terhadap orang lain apalagi orang yang begitu penting dihidupnya. Mudah sekali menangis dan iba, apalagi wanita yang punya perasaan sensitif. Wanita seperti ini terkadang memilih untuk diam dan menangis daripada harus mengutarakan keluhannya (emotional dissonance). Akan tetapi, sepandai-pandainya wanita menyembunyikan perasaan dan sesabar apapun wanita itu, ada saatnya dia akan berontak. Butuh ribuan kali untuk berfikir dan keberanian yang luar biasa untuk berbuat demikian. Karena sejujurnya wanita dengan perasaan sensitif ini tidak mampu untuk mengutarakan kejujuran atau perasaannya yang mungkin nantinya akan menyakiti orang lain. Saking sayangnya, kadang wanita yang sering minta maaf walau laki-lakinya yang salah, biar apa?Biar cepet  kelar masalahanya. Tapi kadang laki-laki nglunjak dan malah menginjak harga diri si wanita. True? Hanya laki-laki yang paham arghhhh....

Well…. apa hubungan overthinking, sensitif dan relationship?
Wanita yang sensitif cenderung overthinking dan ini tentu saja akan berdampak pada kehidupan relationship orang itu. Wanita punya hati lembut, tulus, dan ingin dihargai  untuk setiap hal kecil sekalipun. Temanku pernah curhat kalau dia merasa sedang dalam toxic relationship. Dia menjalin relationship selama hampir 4 tahun. Setiap ada masalah sering kali cerita ke pacarnya (sorry to say, I don’t like this word). Awal menjalin relationship, dia selalu memuji pasangannya yang bijak dalam berfikir atau bertindak. Hingga as time goes bye, setiap bercerita masalahnya, pasangannya selalu bilang “kok kamu ngeluh mulu sih, lama-lama aku jadi bosan dan capek”. Setiap kali mendengar kata itu, dia langsung meminta maaf dan bilang kalau dia tidak akan mengeluh lagi dan jadi berfikir ulang kalau mau cerita kepacarnya. Curhatan lain, ketika dia pulang kuliah praktikum sampai jam 8 malam. Dia bilang ke “pasangannya” dengan harap bakal dijemput. Tapi justru hanya dibalas, “hati-hati ya di jalan”. Sebenarnya tidak ada masalah karena dia bisa pulang naik transport online, hanya saja terlalu berisiko bagi wanita kalau sudah malam. Yang membuat dia sakit hati adalah ada temannya yang bilang kalau “pasangannya” sedang asyik tiduran sambil ngegames di kosnya. Setiap kali ada permasalahan, justru dia yang disalahkan balik dan justru dia yang bilang minta maaf dan memohon-mohon untuk baikan. Dia merasa hubungan mereka sudah tidak sehat. Relationship yang dia mimpikan adalah relationship yang bisa membuat dia bahagia. Namun, yang dia dapat hanya rasa sakit hati dan kecewa karena terlalu berharap dengan manusia.

Menyikapi cerita ini, ada baiknya untuk belajar psikologis antara wanita dan laki-laki sebelum memulai sebuah relationship. Harus mempersiapkan mental akan kemungkinan-kemungkinan terburuk dari sebuah relationship. Tentu saja susah karena wanita dan laki-laki dilahirkan dengan kodrat yang berbeda. Wanita melakukan segala sesuatu dengan perasaanya sedangkan laki-laki menggukan akal atau rasional mereka. Disini tampak jelas kalau perbedaan persepsi dan misskomunikasi akan sering terjadi. Akan tetapi darisinilah kita belajar dan mencoba menyikapinya dengan dewasa. Kalau tidak semua yang dipikirkan dan lakukan akan mendapat feedback yang sesuai dengan harapan atau asumsi kita. Kita tidak bisa mengendalikan orang-orang  disekitar kita untuk memiliki persepsi dan asumsi yang sama sepeti kita. Yang perlu kita lakukan adalah “mengendalikan diri kita sendiri”. Kita perlu mencintai diri kita terlebih dahulu sebelum memberanikan diri untuk mencintai orang lain. Maksud kalimat ini adalah ketika kamu mulai mencintai dirimu, kamu akan mengetahui apa yang sebenarnya kamu butuhkan, kebahagiaan seperti apa yang kamu inginkan, dan segala hal yang tidak kamu sukai dan harus dihindari.

Ketika kamu merasa teman,sahabat atau bahkan pasanganmu sendiri adalah orang yang overthinking, deep thinker, sensitif maka kamu tidak boleh langsung menjustifikasi mereka sebagai seseorang yang memang overthinking. Ada kalanya kamu perlu  mengetahui penyebab mereka menjadi overthinking. Bisa jadi overthinking itu muncul karena trauma akan masa lalunya dan sebagai antisipasi agar tidak lagi terulang dia seringkali berfikir lebih. Misalnya, dia pernah diselingkuhin atau menjadi orang ketiga dalam sebuah relationship yang tidak dia sadari atau pernah mengalami cinta sepihak. Karena kenyataan hidup yang juga  menyakitkan adalah ketika mengetahui orang yang kita cintai tidak mencintai kita balik. Sehingga muncul trauma untuk  membuka hati, jatuh cinta atau menjalin komitmen dengan seseorang. Kalaupun bisa “pola relationship” masa lalu tentu sedikit banyak akan turut “hadir” di relationship yang baru. Be good enough to forgive people but don’t be stupid enough to trust them again!.

Oleh karena itu butuh kesiapan mental  untuk memulai relationship yang baru dengan orang yang baru dan tentu saja dengan masa lalu yang berbeda. Saling menerima, menghargai, mengerti, memaafkan, percaya, melengkapi, dan menasehati. Coba bertanya pada diri sendiri, relationship apa yang sebenaranya kamu inginkan. Apakah sekedar untuk bermain-main, mendapat kesenangan semata atau mencari teman hidup. Semuanya kembali ke prinsip kita masing-masing. Tapi yakinlah semakin dewasa semakin enggan menjalin relationship yang hanya main-main, karena malas untuk sakit hati lagi, sembuh lagi, memulai lagi. Yang diinginkan hanya teman hidup yang bisa diajak bertukar pikiran, membersamai fase-fase jatuh bangun, seseoarang yang bisa jadi ayah, ibu, adik, kakak, bertanggung jawab, dan mau belajar bagaimana menjadi imam dan makmum yang baik. Why im totatally bucin tonight ..hahaha

Kalau kalian berada dalam fase toxic relationship, overthinking. Its okay, its your part of your destiny. Tapi, kalian harus berani memutuskan mana yang terbaik untuk kamu saat ini dan masa depanmu. Lebih baik mengakhiri daripada terjurumus pada rasa sakit hati yang terlalu dalam. Sesungguhnya kalau kamu meninggalkan sesuatu karena Allah (Tuhan) niscaya akan digantikan padamu yang lebih baik. Air hujan tak pernah memilih dia jatuh untuk siapa, namun air mata selalu tepat menentukan jatuh untuk siapa. Roda selalu berputar dan fase selalu berganti. Untuk setiap penantian yang hari ini sedang kita jalani, untuk setiap hati yang memutuskan untuk berjarak pada hal yang tak diridhai. Sekuat apapun menjaga yang memang bukan takdir kita tentu akan pergi.

Cara mencintai yang paling terbaik adalah memuliakannya dalam setiap doamu. Untuk saat ini, hanya berdoa yang kamu bisa. Layaknya Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Azzahra. Mencintai dalam diam dan doa. Memanjangkan doa di sepertiga malam adalah cara memperjuangkannya. Tidak mengapa, lagipula kamu tidak sedang memperjuangkan sesuatu yang sementara, sebab yang kamu perjuangkan adalah seseorang yang akan kamu sempurnakan separuh agamanya dan salah satu jalanmu menuju surga. Mungkin saat ini dia sedang terikat hubungan kekeliruan atau kamu sedang hampa dalam pencarian. Tak mengapa bagaimana keadaan dia sekarang. Ada bait khusus untuk dia agar Allah memudahkannya untuk memperbaiki diri.  Kamu tentu tidak ingin  menjadi dua orang yang berakhlak buruk yang disatukan bukan, jadi mari saling memantaskan. Yang kamu inginkan hidup bersama dikarenakan  sama sama berakhlak luar biasa. Jikapun ada satu atau dua kekurangan, biar dibawah atap yang samalah tempat saling melengkapkan.
Namun, bila doamu tidak mampu membawanya. Tidak mengapa. Semoga Allah mengabulkan salah satu bait doamu agar kelak dia dibersamakan dengan orang lain yang mampu mendekatkannya kepada Allah. Setidaknya jejak-jejak doamu diabadikan oleh langit, yang mungkin turut bersedih sebab takdir tak berpihak pada harapanmu. Aku yakin, langit pun tahu betapa panjang doa-doamu saat memintanya.
Sad ending?
NO, THIS IS LOVE EVERLASTING

Kamis, 02 April 2020

Perempuan dan Apa yang Dipikirkannya

Diposting oleh Coffee or Tea ☕ di 07.54 0 komentar



 “Sahabat Coffe or Tea” warm regards for you guys.

I miss U like Pluto wanna become planet anymore, Do you? 

As we know the world is not run well as before.  The pandemic globally disturb human being so do my academic. During my online class, almost every night my bestie make video call to me. Education, future, feminism, health, family, relationship become obligation topic around Us. That’s take a deep place in my mind so far. I lay in my sweet room  then I keep silent and suddenly I GOT MY MIND FULL OF UNSAID THING. So, I decide to type it!

Bagi perempuan, perasaan atau feeling  memiliki peran yang sangat penting bahkan ada saat dimana perasaan mendominasi keputusan-keputusan yang diambil dalam hidupnya. Perempuan memiliki perasaan yang lebih peka atau sensitive dibandingkan laki-laki karena pada dasarnya perasaan menempati ruang tertinggi dalam jiwa perempuan ketimbang logika atau rasionalitas. Kepekaan tersebut sudah terkandung dalam DNA perempuan sejak evolusi mereka menjadi makhluk hidup. Itulah alasan dasar mengapa perempuan memiliki  kodrat untuk mengandung, melahirkan dan membesarkan anak. Perempuan meyakini bahwa perasaan peka atau sensitive teramat penting fungsinya untuk menjaga keberlangsungan hidup anak-anak mereka. Berbeda halnya dengan laki-laki yang pada awal evolusi memiliki peran utama untuk melindungi keberlansungan hidup seluruh klannya dengan berburu dan meramu. Peran tersebut tentu saja mengharuskan laki-laki untuk mengutamakan logika dalam pengambilan keputusan.

Pemikiran perempuan meyakini bahwa menikah dengan laki-laki yang mereka sayangi adalah suatu kemuliaan dalam hidup dan mengabdikan hidup untuk laki-laki yang ia cintai seperti halnya berlayar dipulau impian yang teramat indah dan menyenangkan untuk dibayangkan. Lantas, Dari mana datangnya cinta? “Dari mata turun ke hati” benarkah? Mungkin penjelasan harfiah dari pepatah tersebut ialah ketika mata kita melihat seseorang lalu jantung (hati) kita berdebar, maka itu tandanya “cinta”. Jika belum pernah merasakan jantung berdebar - debar maka ada dua kemungkinan. Ada gangguan pada jantung kalian atau “jantung hati kalian” mungkin masih otw. hahaha.

Dahulu stigma perempuan terbatas pada “masak, macak,manak” (memasak, berdandan, dan melahirkan keturunan). Perempuan dulu dianggap sebagai “wadah” untuk meneruskan keturunan. Bagaimana dengan perempuan zaman sekarang? Apa yang dibutuhkan perempuan modern untuk survive? . Kemampuan mengkombinasikan perasaaan dan logika adalah jawaban yang paling tepat untuk pertanyaan ini.

Pernah mendengar cerita pasangan berbeda “keyakinan” yang telah menjalin hubungan bertahun-tahun. Mereka memang saling cinta dan sayang, namun tidak bisa melanjutkan ke pernikahan karena terhalang restu orang tua. Bisa membayangkan betapa dilemanya perempuan ini, hati dan pikirannya sudah tentu bergejolak karena harus membuat keputusan tentang hubungannya apakah berhenti  atau berjuang demi cinta yang sudah menahun dipertahankan. Secara logika, perempuan ini seharusnya menghentikan hubungannya sekarang juga karena hal ini dapat membuang waktunya dan menghambat masa depannya yang mungkin bisa dimulai dengan orang yang lebih baik dan seiman.

Sahabat “Coffee or tea” jika kalian berada di posisi perempuan ini mana yang kalian utamakan logika atau perasaan? Ada sebuah teori yang relatable dengan kasus ini yaitu Sunk Cost Fallacy, saat seseorang berfikir bahwa investasi (perasaan cinta) pantas untuk ditunggu hasilnya walaupun investasi (perasaan cinta) tersebut sudah jelas menunjukan hal yang buruk. Perempuan ini terjebak dalam situasi Sunk Cost Fallacy dan menyebabkan dirinya bias pemikiran, perempuan ini berfikir bahwa dia dan pacarnya entah kapan pasti akan menikah padahal tanda-tanda investasi yang ia lakukan kemungkinan besar gagal sudah sangat jelas. Menurut saya, dalam hal ini logika sangat dibutuhkan perannya ketimbang perasaan.

Perempuan dan apa yang dipikirkannya merupakan sebuah universe (semesta) yang infinite (tidak terbatas). Bagaimana tidak, mulai dari hal-hal sederhana sampai kompleks ada dipikiran perempuan. Sehingga perempuan memiliki kecenderungan mudah “baper”. Chat tidak terbalas sedih, galau. Digalakin dikit langsung sakit hati, disindir langsung tersinggung. Diomongin kasar marah, dikepoin langsung sebel. Padahal dalam social life, semua kegiatan kita memerlukan interaksi dengan orang lain sehingga wajar muncul berbagai opini antara satu dengan yang lain. Atau istilah hitznya auto gunjing.  Berbicara hal ini, saya jadi teringat materi yang didiskusikan dosen saya ketika kuliah daring tentang “emosi dan suasana hati”. Perempuan memiliki kecenderungan untuk melakukan Emotional Dissonance yaitu tidak adanya sinkorinisasi antara emosi yang dirasakan dengan yang ditampilkan. Mengapa demikian? Perempuan memiliki hati yang sangat lembut dan cenderung tidak mau dianggap lemah. So, itulah kenapa kebanyakan perempuan memilih berpura-pura menjadi kuat dan cenderung menyembunyikan perasaan dan suasana hatinya dalam diam.

Dari pengalaman dan juga cerita my bestie, saya akhirnya memiliki kesadaran bahwa perasaan tidak seharusnya mendominasi sebagian besar kehidupan saya. Energi saya mungkin akan sia-sia hanya memikirkan perasaan yang sifatnya bias. Berkonsiliasi dengan diri sendiri itu perlu dan engaged dengan  logika menjadi sebuah keharusan bagi saya.

Berkaca dari sosok perempuan hebat seperti Ratu Elizabeth, Susi Pudjiastuti, Sri Mulyani dan perempuan hebat lainnya sudah pasti membiasakan diri mereka untuk selalu berfikir logis dan rasional dalam membuat keputusan. Cara berfikir logis perempuan tersebut akan tercatat di DNA mereka dan akan diteruskan kepada keturunan-keturunan mereka selanjutnya. Evolusi pemikiran perempuan hebat ini tidak hanya berguna untuk saat ini, tetapi berguna juga untuk keturunan-keturunan mereka di masa yang akan datang.

“Perempuan dan apa yang dipikirkannya merupakan ramalan besar tentang masa depan keluarga bahkan sebuah bangsa”

In my point of view;  Its ok to think higher and bigger, is not shamefull at all. But we need to unlock the ability of how to think citically and logically.
 “R_dry 2020”

Much obliged To Mrs.Indira Gustiar, who inspiring me to type!
Thanks a bunch for Mrs.Tyas, my lecturer who deliver e very interesting materi yesterday
And also Thank to My Bestie Novilia for beautiful pict, Saun & Pipit who support my mood (always and ever)

Noted: Feel free to give any comment below

 

R_dry Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea