Ketika Hijab tak lagi di Indahkan
Menghabiskan
malam minggu bersama seseorang yang dianggap special mungkin sudah menjadi
tradhisi bagi kaum muda di era millennial. Usia muda mungkin menjadi waktu seseorang untuk menemukan siapa
dirinya sesungguhnya, dilema sebab krisis identitas sering kali datang
menghantui dan seakan membuat jiwa para muda ini bingung dan resah menjalani
kehidupannya. Disaat itulah, para muda berusaha mencari kesenangan untuk
sekedar memuaskan diri.
Hijab! Mungkin
sebuah kata yang tak asing untuk didengar. Tapi apa sebetulnya hijab itu?
Apakah hanya sekadar kain yang menutupi kepala kita, atau seperti apa? Hijab
adalah salah satu bentuk pakaian yang diisyaratkan oleh agama islam bagi setiap
kaum muslimah. Sebagaimana yang tertera di Al-Quran :
------katakanlah kepada
wanita-wanita beriman: “Hendaklah mereka
menundukan pandangan mereka dan memelihara kehormatan mereka, kecuali yang
lazim tampak. Dan hendaklah menutupkan kerudung-kerudung pada mereka pada dada
mereka. Dan janganlah memperlihatkan perhiasan-perhiasan mereka kecuali pada
suami-suami mereka (An-Nur 31).
Terlihat dengan
jelas bahwa setiap muslimah diwajibkan untuk menutup auratnya dan menjaga
pandangan dari lawan jenisnya. Seseorang yang berani mengambil keputusan untuk
mengenakan hijab sudah semestinya untuk merubah pembawaanya, dengan kata lain
mereka harus bertanggung jawab terhadap penampilan mereka. Hijab itu identitas
untuk setiap muslimah, bukan hanya sekadar mengikuti trend fashion, melainkan
sebuah ciri diri. Tutur kata yang halus, akhlak yang baik, pegetahuan agamis
yang luas, taat beribadah dan selalu menjauhi apapun yang dilarang dalam ajaran
islam, yah,,, itu semua asumsi bagi orang-orang yang berhijab jikalau diliat
oleh umum. Asumsi hanya sekadar asumsi, nyatanya hijab tak lagi diindahkan, tak
lagi menjadi symbol bagi wanita muslimah yang taat pada ajaran agamanya.
Beberapa waktu
yang lalu, diriku sempat mengikuti kegiatan penggalangan dana untuk membantu
korban bencana di salah satu provinsi di bagian Indonesia Timur. Penggalangan
dilakukan dengan menjual makanan, minuman atapun bunga mawar di Alun-alun kota
Semarang. Pada saat itu, aku dan dua temanku mendapat job untuk menjual
bunga-bunga mawar. Tentu saja target pasar kita adalah kaum muda-mudi yang
sedang menghabiskan malam minggu bersama. Pasangan demi pasangan kami tawari
bunga-bunga itu dengan jurus pemasaran yang emang sengaja kami buat seakan-akan
merayu si lelakinya untuk bersedia memberikan bunga untuk kekasinya. Jujur
diriku pun merasa jijik melontarkan kata-kata manis untuk pasangan-pasangan
itu. Namun apa daya itu sudah menjadi tanggung jawab yang harus dilakukan. Satu
Dua tangkai bunga mawar kami laku. Kami pun beranjak menghampiri pasangan mudi
lainnya. Betapa tercengannya diriku saat kudapati, pasangan yang jika dilihat
dari postur tubuh dan raut mukanya
mereka baru usia anak SMA. Ku hampiri mereka dan ku mulai lagi strategi manis
supaya bunga-bungaku habis terjual. Di sela-sela promosi itu dengan sangat
detail aku mengamati mereka.
Mereka duduk
ditempat yang agak sepi, bahkan ada kami didepan mereka pun mereka tak merasa
malu untuk mengumbar kemesraannya, mulai dari berpegangan tangan,menempelkan
hidung kepasangan masing-masing. Aku pun berfikir, “ini cewe apa ya gak merasa
malu, jijik, padahal dia berhijab, sadar gak sih kalu dia itu mempermalukan
dirinya sendiri”. Hatiku bergojalak dan ingin rasanya ku memarahi mereka.
hehehehee.. Tapi ku sadar aku pun masih belajar untuk berhijrah. Oke…setelah
berbincang-bincang lama dengan mereka dan melihat si cewenya ingin sekali
dibelikan bunga akhirnya si lelaki bersedia
membeli bunga yang kami tawarkan, kita pun beranjak pergi untuk mengumpulkan
hasil jualan kami. Sepanjang jalan menuju titik kumpul, kami mengamati
sekeliling kita. Sepanjang jalan dipenuhi dengan pasangan muda mudi dengan
segal umur. yah…. Area alun-alun memang sangat ramai apalagi saat malam minggu,
tua muda anak-anak semua membaur disana. Banyak diantara kumpulan
pasangan-pasangan tersebut mengenakan hijab dan melakuan hal-hal yang diluar
apa yang diajarkan agama islam.
Memang benar
keputusan untuk berhijab tidak harus menunggu mendapatkan hidayah, menunggu
hati ini bersih, punya pengetahuan yang luas tetang islam, dan alasan alasan
umum lainnya. Dulu sebelum aku memutuskan untuk mengenakan hijab aku juga
berpikiran begitu. Namun saat sedikit demi sedikit ku belajar dari lingkungan
dan mengamati sekeliling. Aku pun berfikir. Aku lebih baik tidak menggunakan
hijab terlebih dahulu jika pada akhirnya aku berhijab tetapi perilakuku tak
mencerminkan wanita muslimah sesungguhnya, karena itu sama saja aku mencederai
wanita yang menggunakan hijab. Paradigma tentang wanita hijab itu santun dan
mengindahkan norma, semakin lama akan tergerus dengan paradigm baru bahwasannya
orang yang berhijab itu “Belum Tentu Orang yang Baik, dan Mengindahkan Ajaran
Agama, dengan kata lain Luar Sama Dalam itu Beda”. Titik
Pesan untuk kalian para
wanita berhijab.
Pesan ini aku dapat dari
teman-teman kuliahku, yang juga peduli dengan fenomena Hijabers saat ini:
Dwi Ratnasari :"
Perempuan berhijab itu tidak salah, karena itu sudah menjadi kewajiban dalam
sebagai umat muslim. Perkara baik atau buruk
perilakuknya, jangan salahkan hijabnya.”
Yulia : “Untuk kalian perempuan
berhijab, jangan pernah lelah untuk istiqomah”
Novilia : “ Ingatlah! Jangan mengkhianati
hijabmu”
Inna : “Bidadari di dunia emang gak
bersayap, tapi mereka berhijab. Uuuu
makanya yang cewe yuk
berijab!”
Oci : “Kalau udah berhijab, perkataan
juga harus dijaga ya”
Ayu : “Tetaplah istiqomah”
16/09/2018
22.25
