Selasa, 18 September 2018

Salahkan tabiatnya, bukan Hijabnya

Diposting oleh Coffee or Tea ☕ di 22.24 0 komentar

Ketika Hijab tak lagi di Indahkan

Menghabiskan malam minggu bersama seseorang yang dianggap special mungkin sudah menjadi tradhisi bagi kaum muda di era millennial. Usia muda mungkin  menjadi waktu seseorang untuk menemukan siapa dirinya sesungguhnya, dilema sebab krisis identitas sering kali datang menghantui dan seakan membuat jiwa para muda ini bingung dan resah menjalani kehidupannya. Disaat itulah, para muda berusaha mencari kesenangan untuk sekedar memuaskan diri.
Hijab! Mungkin sebuah kata yang tak asing untuk didengar. Tapi apa sebetulnya hijab itu? Apakah hanya sekadar kain yang menutupi kepala kita, atau seperti apa? Hijab adalah salah satu bentuk pakaian yang diisyaratkan oleh agama islam bagi setiap kaum muslimah. Sebagaimana yang tertera di Al-Quran :
------katakanlah kepada wanita-wanita beriman:  “Hendaklah mereka menundukan pandangan mereka dan memelihara kehormatan mereka, kecuali yang lazim tampak. Dan hendaklah menutupkan kerudung-kerudung pada mereka pada dada mereka. Dan janganlah memperlihatkan perhiasan-perhiasan mereka kecuali pada suami-suami mereka (An-Nur 31).
Terlihat dengan jelas bahwa setiap muslimah diwajibkan untuk menutup auratnya dan menjaga pandangan dari lawan jenisnya. Seseorang yang berani mengambil keputusan untuk mengenakan hijab sudah semestinya untuk merubah pembawaanya, dengan kata lain mereka harus bertanggung jawab terhadap penampilan mereka. Hijab itu identitas untuk setiap muslimah, bukan hanya sekadar mengikuti trend fashion, melainkan sebuah ciri diri. Tutur kata yang halus, akhlak yang baik, pegetahuan agamis yang luas, taat beribadah dan selalu menjauhi apapun yang dilarang dalam ajaran islam, yah,,, itu semua asumsi bagi orang-orang yang berhijab jikalau diliat oleh umum. Asumsi hanya sekadar asumsi, nyatanya hijab tak lagi diindahkan, tak lagi menjadi symbol bagi wanita muslimah yang taat pada ajaran agamanya.
Beberapa waktu yang lalu, diriku sempat mengikuti kegiatan penggalangan dana untuk membantu korban bencana di salah satu provinsi di bagian Indonesia Timur. Penggalangan dilakukan dengan menjual makanan, minuman atapun bunga mawar di Alun-alun kota Semarang. Pada saat itu, aku dan dua temanku mendapat job untuk menjual bunga-bunga mawar. Tentu saja target pasar kita adalah kaum muda-mudi yang sedang menghabiskan malam minggu bersama. Pasangan demi pasangan kami tawari bunga-bunga itu dengan jurus pemasaran yang emang sengaja kami buat seakan-akan merayu si lelakinya untuk bersedia memberikan bunga untuk kekasinya. Jujur diriku pun merasa jijik melontarkan kata-kata manis untuk pasangan-pasangan itu. Namun apa daya itu sudah menjadi tanggung jawab yang harus dilakukan. Satu Dua tangkai bunga mawar kami laku. Kami pun beranjak menghampiri pasangan mudi lainnya. Betapa tercengannya diriku saat kudapati, pasangan yang jika dilihat dari  postur tubuh dan raut mukanya mereka baru usia anak SMA. Ku hampiri mereka dan ku mulai lagi strategi manis supaya bunga-bungaku habis terjual. Di sela-sela promosi itu dengan sangat detail aku mengamati mereka.
Mereka duduk ditempat yang agak sepi, bahkan ada kami didepan mereka pun mereka tak merasa malu untuk mengumbar kemesraannya, mulai dari berpegangan tangan,menempelkan hidung kepasangan masing-masing. Aku pun berfikir, “ini cewe apa ya gak merasa malu, jijik, padahal dia berhijab, sadar gak sih kalu dia itu mempermalukan dirinya sendiri”. Hatiku bergojalak dan ingin rasanya ku memarahi mereka. hehehehee.. Tapi ku sadar aku pun masih belajar untuk berhijrah. Oke…setelah berbincang-bincang lama dengan mereka dan melihat si cewenya ingin sekali dibelikan bunga akhirnya  si lelaki bersedia membeli bunga yang kami tawarkan, kita pun beranjak pergi untuk mengumpulkan hasil jualan kami. Sepanjang jalan menuju titik kumpul, kami mengamati sekeliling kita. Sepanjang jalan dipenuhi dengan pasangan muda mudi dengan segal umur. yah…. Area alun-alun memang sangat ramai apalagi saat malam minggu, tua muda anak-anak semua membaur disana. Banyak diantara kumpulan pasangan-pasangan tersebut mengenakan hijab dan melakuan hal-hal yang diluar apa yang diajarkan agama islam.
Memang benar keputusan untuk berhijab tidak harus menunggu mendapatkan hidayah, menunggu hati ini bersih, punya pengetahuan yang luas tetang islam, dan alasan alasan umum lainnya. Dulu sebelum aku memutuskan untuk mengenakan hijab aku juga berpikiran begitu. Namun saat sedikit demi sedikit ku belajar dari lingkungan dan mengamati sekeliling. Aku pun berfikir. Aku lebih baik tidak menggunakan hijab terlebih dahulu jika pada akhirnya aku berhijab tetapi perilakuku tak mencerminkan wanita muslimah sesungguhnya, karena itu sama saja aku mencederai wanita yang menggunakan hijab. Paradigma tentang wanita hijab itu santun dan mengindahkan norma, semakin lama akan tergerus dengan paradigm baru bahwasannya orang yang berhijab itu “Belum Tentu Orang yang Baik, dan Mengindahkan Ajaran Agama, dengan kata lain Luar Sama Dalam itu Beda”. Titik

Pesan untuk kalian para wanita berhijab. 

Pesan ini aku dapat dari teman-teman kuliahku, yang juga peduli dengan fenomena Hijabers saat ini:
Dwi Ratnasari :" Perempuan berhijab itu tidak salah, karena itu sudah menjadi kewajiban dalam
sebagai umat muslim. Perkara baik atau buruk perilakuknya, jangan salahkan hijabnya.”
Yulia               : “Untuk kalian perempuan berhijab, jangan pernah lelah untuk istiqomah”
Novilia        : “ Ingatlah! Jangan mengkhianati hijabmu”
Inna            : “Bidadari di dunia emang gak bersayap, tapi mereka berhijab. Uuuu
makanya yang cewe yuk berijab!”
Oci              : “Kalau udah berhijab, perkataan juga harus dijaga ya”
Ayu             : “Tetaplah istiqomah”



16/09/2018
22.25


 

R_dry Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea