PEMULIHAN
POLITIK INDONESIA MELALUI PENANAMAN MENTAL SEJATI PADA
MAHASIWA
Indonesia merupakan Negara berkedaulatan hukum yang rawan
akan konflik politik. Situasi Indonesia saat ini mirip dengan suasana menjelang
Pemberontakan PKI tahun 1965. Ada beberapa fenomena yang menunjukkan kemiripan
dengan suasana menjelang pemberontakan PKI tahun 1965. Seperti, pada tahun
1961, 1962, hingga 1963 saat itu di Indonesia tiada hari tanpa demonstrasi dari
unsur-unsur PKI. Sekarang muncul demontrasi serupa berupa aksi 299 yang digelar
di depan Gedung MPR/DPR/DPD terkait pelarangan PKI dan Penolakan Perppu Ormas.
Selain itu, pada tahun 1965, PKI mengedrop senjata dari China. Sedangkan
sekarang yang di drop adalah orang-orangnya atau para tenaga kerja asing asal
negera komunis itu. Sebagai negera hukum korupsi masih menjadi masalah
fundamental bangsa. Berdasarkan survey yang dilakukan KPK tahun 2011 terdapat 3
modus kasus korupsi yang menjadi pusat perhatian masyarakat Indonesia.
Diantaranya adalah kasus pajak yang melibatkan Gayus Tambunan, kasus Bank
Century, dan kasus Wisma Atlet yang melibatkan Nazarudin. Tindakan tegas yang
dilakukan pemerintah tidak memberikan efek jera. Hal ini menunjukkan bahwa
dorongan melakukan korupsi berkaitan dengan sikap mental seseorang terhadap
sistem nilai yang diwarisi.
Pembentukan
mental dan moral yang sejati perlu ditanamkan sejak dini, terutama pada
mahasiswa yang memiliki peran sebagai
“Agent of Change” atau pembaharu. Pada dasarnya mahasiswa mempunyai mental dan
moral yang bersih. Yang membedakan hanya bagaimana kondisi lingkungan pembentuk
mental mereka. Salah satu upaya pembentukan mental sejati bagi generasi muda
terkhusus mahasiswa yaitu melalui dongeng “Antikorupsi”. Media dongeng menjadi
media yang ringan dan mudah dilakukan. Interaksi melalui pesan moral yang
disampaikan lewat dongeng secara tidak sadar akan diikuti oleh generasi muda.
Bahasa yang mudah dipahami menjadi penunjang pembentukan mental sejati bagi
generasi muda. Selain itu pendampingan mental juga menjadi penunjgan dalam
pembentukan mental sejati pada generasi muda yaitu melalui 3 aspek yaitu APB
yang merupakan akronim dari Agama, Pendidikan, dan Budaya. Agama merupakan
faktor pertama yang mempengaruhi sikap tatanan kehidupan bangsa mulai dari
budaya, sosial, politik dan agama. Penanaman nilai-nilai keagamaan atau
religius bisa dilakukan melalui pembentukan organisasi maupun kegiatan ekstra
kampus yang berbasis keagamaan. Aspek kedua yaitu pendidikan.
Pendidikan merupakan media efektif dalam
pembetukan sikap mental generasi muda. Pemberian pendidikan tidak hanya
dilakukan di dalam sebuah ruang (pendidikan formal) melainkan dimana saja
(pendidikan non formal). Aspek yang terakir yaitu budaya. Ruang lingkup budaya
dalam konteks ini adalah lingkungan sekitar, yang meliputi teman, budaya,
teknologi, dan beberapa hal yang berada di sekitar. Seperti kata mutiara “apabila kamu berada di dekat pembuat minyak
wangi, maka kamu akan tertular bau wanginya. Sebaliknya apabila kamu dekat
dengan pembuat minyak tanah, maka kamu akan tertular bau minyak tanah bahkan
terbakar”. Melalui metode tersebut akan melahirkan generasi muda yang sudah
terdidik dan terlatih memiliki mental yang kuat dan sejati dalam menghadapi
situasi politik. karena manusia yang memiliki mental sejati akan berfikir lebih
dalam sebelum bertindak.
