Sabtu, 05 Mei 2018

Peran Mahasiswa dan Politik

Diposting oleh Coffee or Tea ☕ di 06.09 0 komentar
PEMULIHAN POLITIK INDONESIA MELALUI PENANAMAN MENTAL SEJATI PADA MAHASIWA


            Indonesia merupakan Negara berkedaulatan hukum yang rawan akan konflik politik. Situasi Indonesia saat ini mirip dengan suasana menjelang Pemberontakan PKI tahun 1965. Ada beberapa fenomena yang menunjukkan kemiripan dengan suasana menjelang pemberontakan PKI tahun 1965. Seperti, pada tahun 1961, 1962, hingga 1963 saat itu di Indonesia tiada hari tanpa demonstrasi dari unsur-unsur PKI. Sekarang muncul demontrasi serupa berupa aksi 299 yang digelar di depan Gedung MPR/DPR/DPD terkait pelarangan PKI dan Penolakan Perppu Ormas. Selain itu, pada tahun 1965, PKI mengedrop senjata dari China. Sedangkan sekarang yang di drop adalah orang-orangnya atau para tenaga kerja asing asal negera komunis itu. Sebagai negera hukum korupsi masih menjadi masalah fundamental bangsa. Berdasarkan survey yang dilakukan KPK tahun 2011 terdapat 3 modus kasus korupsi yang menjadi pusat perhatian masyarakat Indonesia. Diantaranya adalah kasus pajak yang melibatkan Gayus Tambunan, kasus Bank Century, dan kasus Wisma Atlet yang melibatkan Nazarudin. Tindakan tegas yang dilakukan pemerintah tidak memberikan efek jera. Hal ini menunjukkan bahwa dorongan melakukan korupsi berkaitan dengan sikap mental seseorang terhadap sistem nilai yang diwarisi.
Pembentukan mental dan moral yang sejati perlu ditanamkan sejak dini, terutama pada mahasiswa yang memiliki peran  sebagai “Agent of Change” atau pembaharu. Pada dasarnya mahasiswa mempunyai mental dan moral yang bersih. Yang membedakan hanya bagaimana kondisi lingkungan pembentuk mental mereka. Salah satu upaya pembentukan mental sejati bagi generasi muda terkhusus mahasiswa yaitu melalui dongeng “Antikorupsi”. Media dongeng menjadi media yang ringan dan mudah dilakukan. Interaksi melalui pesan moral yang disampaikan lewat dongeng secara tidak sadar akan diikuti oleh generasi muda. Bahasa yang mudah dipahami menjadi penunjang pembentukan mental sejati bagi generasi muda. Selain itu pendampingan mental juga menjadi penunjgan dalam pembentukan mental sejati pada generasi muda yaitu melalui 3 aspek yaitu APB yang merupakan akronim dari Agama, Pendidikan, dan Budaya. Agama merupakan faktor pertama yang mempengaruhi sikap tatanan kehidupan bangsa mulai dari budaya, sosial, politik dan agama. Penanaman nilai-nilai keagamaan atau religius bisa dilakukan melalui pembentukan organisasi maupun kegiatan ekstra kampus yang berbasis keagamaan. Aspek kedua yaitu pendidikan.
Pendidikan merupakan media efektif dalam pembetukan sikap mental generasi muda. Pemberian pendidikan tidak hanya dilakukan di dalam sebuah ruang (pendidikan formal) melainkan dimana saja (pendidikan non formal). Aspek yang terakir yaitu budaya. Ruang lingkup budaya dalam konteks ini adalah lingkungan sekitar, yang meliputi teman, budaya, teknologi, dan beberapa hal yang berada di sekitar. Seperti kata mutiara “apabila kamu berada di dekat pembuat minyak wangi, maka kamu akan tertular bau wanginya. Sebaliknya apabila kamu dekat dengan pembuat minyak tanah, maka kamu akan tertular bau minyak tanah bahkan terbakar”. Melalui metode tersebut akan melahirkan generasi muda yang sudah terdidik dan terlatih memiliki mental yang kuat dan sejati dalam menghadapi situasi politik. karena manusia yang memiliki mental sejati akan berfikir lebih dalam sebelum bertindak. 
 

R_dry Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea